TOMB RAIDER (2018) FILM REVIEW

LADY LARA CROFT IS BACK

Tomb Raider, Namanya saja Reboot pasti selalu dibanding-bandingkan dengan yang sebelumnya,  film ini adalah reboot yang pertama jelas jarak yang lebih dari 17 tahun lamanya, dari segi perkembangan film pasti sudah sangat jauh berbeda hanya tinggal letak perbedaan tersebut mana yang lebih bagus mana yang jelek atau bahkan film original adalah klasik dan bagus karena faktor X-nya sendiri contohnya Startrek Leonard Nimoy dan William Shatner dengan Startrek Chris Pine dan zachary quinto kedua versi yang sama saja menariknya.

Roar Uthaug pada rebootnya di 2018 membawa Tomb Raider dengan tokoh protagonisnya Lara Croft kembali mendekati akar lahirnya yaitu sebagai film yang berasal dari adaptasi video game, walau penggambaran visual settingnya mendekati gaya game Tomb Raider versi rilis Square Enix di tahun 2013. Terlihat jauh dari unsur glamor film original Tomb Raider di 2001 saat dibawakan oleh Angelina Jolie.

Alicia Vikander memang tidak mempunyai Kharisma elegand seperti Jolie namun disini adalah pendekatan yang dilakukan Roar untuk menampilkan gaya Lara Croft yang baru, seorang yang terlihat realis lemah namun juga mampu melakukan yang tidak mungkin.

Tetap dengan karakter original maupun video game Lara Croft adalah sang Lara, jiwa yang Mandiri dan kokoh komit pada pendiriannya dan juga pantang menyerah. Dan tetap menggunakan alur cerita yang sama tetap yaitu mengarungi daerah yang entah berantah di pelosok dunia demi panggilan jiwanya untuk menyetuh rasa rindu kepada sang ayah.

Adegan aksi demi aksi dimana Alicia harus berlari menyelamatkan diri dari karamnya kapal dan melompat bergelayutan di bangkai kapal, adegan epik yang tentunya membuat pada pecinta game Tomb Raider bisa bernostalgia dan juga merasakan kembali sensasi dikejar-kejar waktu berusaha lolos dari rubuhnya kapal, sensasi ini yang dirasa hilang pada era Tomb Raider Angelina Jolie, Uthaug melihat ini adalah esensi utama untuk membuka karakter Lara yang baru.

Dengan bobot cerita yang masih ringan penonton lebih di beratkan pada adegan aksi yang lumayan nonstop, belum banyak pendalaman plot serta masih minim adegan dialog yang berat yang ditampilkan oleh Alicia, mungkin Tomb Raider reboot ini ingin mendekatkan Film Tomb Raider lebih ke akar muasalnya. Alhasil film awal Tomb Raider ini terasa lebih gelap, energik dan survivalis dan Aicia dengan baik memerankan sosok Lara yang masih separuh jadi, Lara yang masih agak ragu-ragu lemah namun pelan-pelan dengan dorongan insting survivalnya menjadi kokoh dan kuat.

Kembali ke plot cerita pada akhir cerita pendalaman dan penataan untuk seri kedepan Tomb Raider pelan-pelan mulai dibuka, dengan menyadari dibalik takdir bertemunya kembali Lara dengan ayahnya menyingkap takbir bahwa perusahaan yang dipimpinnya justru berisi orang-orang yang terbentuk dalam sebuah anak perusahaan yang ingin dihentikan oleh Ayahnya sendiri. Organisasi Trinity mengingatkan kita pada serial Iron Fist versi Netflix bukan?.

Tomb Raider reboot memang layak mendapat sequel, Karena versi baru ini jelas beda energi dan selalu terlintas apa lagi yang akan dialami Lara di petualangannya, berbeda dengan versi orisinil dimana cukup duduk manis tertidur sedikit juga tidak rugi-rugi amat jika terlewat, sorry Jolie.

Wellcome back Lara Croft.