Review Kedalaman cinta dari film SUBMERGENCE

Film Submergence adalah bukti Wim Wenders secara konsisten berkarya pada jalurnya. Dia telah membuat film layar lebar dokumentasi selama kurang lebih 45 tahun, dan cara dia menceritakan sebuah film kepada penonton tidak pernah berfluktuasi, baik itu tempo era 70-an hingga “Paris, Texas” dan “Wings of Desire” dan hingga tahun 90-an membawa perjalanan perfilman dia yang utopian (“Until the End of the World”) dan sekarang “Submergence,” film yang ditayangkan perdana Toronto Film Festival. Melalui semua itu, Wenders tidak pernah melepaskan pantulan penjiwaan film yang lesu, adegan-adegan muram yang goyah dan menyimpang, serta struktur film yang berliku-liku dan panjang yang dimana secara teoritis justru bisa menyimpan esensi film.

“Submergence” adalah contoh nyata eksistensi dari gaya itu, karena menurutnya ini adalah drama yang paling konvensional yang dibuat oleh Wenders selama bertahun-tahun, sebuah maha karya dari perubahan generasi karyanya. Berinti cerita dari sepasang penggemar karya seni yang dibintangi James McAvoy dan Alicia Vikander, dua bintang yang glamor dan sangat cocok saat ini mencoba mengkuras potensi garapan maksimal sang Wenders. Musik Film ini di bawah wewenangi oleh Fernando Velázquez dimana musik yang terdengar seakan-akan memang berasal dan dimiliki oleh dunia bawah laut era James Bond di tahun 60-an dengan karangan Gustav Mahler, dengan sinopsis kisah cinta yang mengambil isu tema global yang penting namun bukan perubahan iklim tapi terorisme global.

McAvoy memerankan James, seorang agen MI6 yang berperan sebagai insinyur air untuk menyusup ke daerah kantong Al-Qaeda di Somalia. Sementara Vikander memerankan Danielle, ahli bio-matematika yang tengah mengeksplorasi kehidupan di bawah laut pada tingkat terdalam dan paling gelap. Keduanya bertemu saat liburan di hotel tepi pantai di Normandia dan jatuh ke dalam hubungan yang begitu lembut.

Sesuai Judul film mereka berdua bak sebuah metafora sensual multi-simbolik dalam sebuah perjalanan cinta, dimana James dan Danielle tenggelam perjalanan cinta mereka sedalam lautan atau Submergence. Danielle menjalani hidupnya sebagai peneliti dalam kapal selam kuning sepanjang 30 kaki dan membiarkan dirinya tenggelam dalam keruhnya air laut yang dangkal. Sedangkan James, terlepas dari alter egonya sebagai seorang penyamar, ditangkap di kompleks Al-Qaeda, dia disusupi dan dijebloskan ke penjara kotor dan lembap, di mana teroris dengan syal kepala merah memukuli dia dan berusaha memaksa, dan bahkan mencuci otak, dia untuk membuat pernyataan video yang mendukung tujuan mereka. Walau mereka tidak pernah berhasil meruntuhkan James, Dan mereka berdua mempunyai jalan hidup di dalam kedalaman masing-masing.

Wenders, mempunyai keahlian dalam mengolah momen, seperti contoh mengolah cerita di babak pertama film, ketika pertemuan perjalanan James dan Danielle di tepi pantai, momen dimana sling bertukar pikiran yang dalam, momen pandangan demi pandangan yang saling memuja. Danielle menyukai bertautan dengan james,

Dia menceritakan dan menggambarkan lima tingkat samudera secara deskriptif seolah-olah yang membuat Vikander terdengar seperti misteri namun juga sangat menggiurkan untuk didengar. Pada titik lain mereka berdebat tentang terorisme, walau James mengakui sisi keindahan dari gerakan terorisme itu adalah adanya keyakinan dan yakin tersebut sendiri adalah sungguh “indah”.

Wenders menggabungkan elemen-elemen yang berbeda-beda dari film yaitu romansa, petualangan bawah air, thriller penjara dia menggabungkannya secara puitis, Pada dasarnya, dia telah membuat kisah cinta tentang dua orang yang misinya membongkar jiwa mereka, walau meskipun mereka ingin bersama. Namun pada dasarnya mereka menghabiskan paruh kedua film dalam kisah jalan hidup yang terpisah.