I KILL GIANTS (2018) FILM REVIEW

Ekspektasi dan Realita

Berikut adalah review film I kill giants dalam Bahasa indonesia, sebuah tontonan ringan dan mudah diikuti dengan durasi film tidak begitu panjang maupun pendek, hampir semua plot mengikuti arah sesuai dengan cerita terbitan komiknya.

Jika melihat trailernya pasti akan membuat orang mengkira bahwa film ini akan menampilkan banyak aksi spesial efek, sesuai judulnya juga artinya akan ada adegan aksi antara manusia dan sang raksasa, padahal isi film ini sendiri adalah tidak lebih dari cerita drama dengan sedikit bumbu aksi dan spesial efek.

Barbara melawan Giants dan seluruh dunia

Inti cerita dari film i kill giants adalah tentang penolakan dari kenyataan yang harus dihadapi oleh Barbara (Madison Wolfe) atas musibah yang dialami oleh keluarganya, ibunya sedang terbaring sakit parah Hanya tinggal dia dan kakak tertua Karen yang diperankan Imogen Poots dan kakak kedua Dave diperankan oleh Art Parkinson.

Kondisi Tanpa bimbingan dan perhatian orang tua membuat Barbara melarikan diri dari kenyataan dan lebih memilih tidak hanya menutup diri namun juga membentengi diri dari orang-orang disekitarnya, semua usaha untuk memasuki perasaannya di tolak mentah-mentah dan berusaha sekuat mungkin menarik diri, Barbara dianggap Anak teraneh disekolahnya tidak mempunyai teman sama sekali cenderung pergi dengan dunianya sendiri yaitu dunia pembasmi raksasa sampai titik dimana dia bertemu dengan Sophia.

Sophia adalah Anak baru di sekolah, dia siswa pindahan dari inggris dimana belum mempunyai teman sama sekali, justru Barbara yang aneh adalah teman pertama yang mau menerima dia. Sophia ikut serta dalam cerita legenda dongeng raksasa yang hidup di masa lampau dan bagaimana mereka akan memusnahkan dunia kelak.

Selain Sophia Mrs. Mollé yang Diperankan oleh Zoe Saldana adalah orang kedua yang bisa memasuki hidup Barbara, guru psikolog murid yang pelan-pelan memantau perkembangan Barbara Karena sudah sangat seringnya dia masuk daftar skorsing kepala sekolah. Mrs. Mollé bersusah payah untuk memasuki perasaan Barbara namun akhirnya dia berhasil setelah mengetahui latar belakang sifat penolakan Barbara terhadap lingkungan lantaran penyakit keras ibunya.

Dunia Barbara dipenuhi oleh fantasi bahwa akan ada sosok titan maha raksasa yang akan datang untuk menyerang manusia, Barbara mempunyai tugas suci untuk memerangi para raksasa dengan palu maha dasyat berkemampuan mengeluarkan petir.

Coveleski sang Palu petir

Semua fantasinya runtuh setelah Barbara menyadari “Coveleski” senjata palunya hanya mainan biasa tanpa ada kekuatan apa-apa bahkan tidak bisa menolongnya saat dia dibully oleh Taylor, gadis bertubuh besar yang suka memeras anak-anak lemah lainnya. Semua kenyataan dan fantasi seolah-olah bercampur jadi satu membuat Barbara sedih karena harus menerima kenyataan bahwa semua itu adalah bohongan belaka dari fantasi dia sendiri.

Pada titik akhir Barbara akhirnya berani melawan kata batinnya dengan menghadapi kenyataan bahwa ibunya sedang sakit parah dan bisa kapan saja meninggal. Perang melawan Titan adalah aksi pamungkas fantasi Barbara yang menyudahi gejolak jiwanya. Dalam perang terakhir Coveleski berhasil membenamkan titan kedalam dasar laut.

Titan kalah dan Barbara kembali ke pangkuan keluarganya dan kehidupan nyata pun kembali berjalan, Barbara melalui langkah kedewasaanya dengan menerima takdir bahwa ibunya telah meninggal dengan tenang karena sudah bertemu dengan Barbara untuk terakhir kalinya.

Sang Raksasa, apakah mereka nyata? Titan dan para raksasa nyata dalam hidup Barbara sebelumnya hingga tugas mereka selesai, yaitu mendewasakan Barbara. Film yang sarat oleh moral edukasi singkat bahwa hidup harus menerima keadaan walau itu pahit sekalipun.